Feeds:
Pos
Komentar

Tentang harta kekayaan yang akan diwariskan kepada anak-anak, maka… Abu Dardak pernah menyurati sahabatnya sebagai berikut:

“.. أما بعد، فلست في شيء من عرض الدنيا، والا وقد كان لغيرك قبلك.. وهو صائر لغيرك بعدك.. وليس لك منه الا ما قدّمت لنفسك… فآثرها على من تجمع المال له من ولدك ليكون له ارثا، فأنت انما تجمع لواحد من اثنين:

اما ولد صالح يعمل فيه بطاعة الله، فيسعد بما شقيت به..

واما ولد عاص، يعمل فيه بمعصية الله، فتشقى بما جمعت له،

فثق لهم بما عند الله من رزق، وانج بنفسك”..!

(( رجال حول الرسول – (ج 1 / ص 90 ))

“Selanjutnya… Tidak satupun harta kekayaan dunia yang kamu miliki, melainkan sudah ada orang lain memilikinya sebelum kamu… dan akan ada terus orang lain memilikinya sepeninggal kamu! Sebenarnya yang kamu miliki dari dunia hanyalah sekedar yang kamu manfaatkan buat dirimu… Maka utamakanlah diri itu dari orang yang untuknya kamu kumpulkan harta itu yaitu anak-anakmu yang bakal mewarisimu. Karena dalam mengumpul-ngumpulkan harta itu kamu akan memberikannya kepada salah satu di antara dua: Adakalanya kepada anak yang shaleh yang beramal dengannya guna mentaati Allah, maka ia berbahagia atas segala penderitaanmu… Dan adakalanya pula kepada anak durhaka yang mempergunakannya untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu… Maka percayakanlah nasib mereka kepada rizki yang ada pada Allah, dan selamatkanlah dirimu sendiri…!” (Khalid Muhammad Khalid/ Rijal Haula ar Rasul/Juz I/ hal 90)

SANG KULI

Pada suatu hari ketika Salman Al Farisi sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat dan melelahkannya. Demi dilihatnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, maka  terpikirlah olehnya hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan memberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan.

Ia memberi isyarat agar datang kepadanya, dan Salman menurut dengan patuh…

“Tolong bawakan barangku ini”, kata orang Syria itu… Maka barang itupun dipikul Salman, lalu mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman memberi salam kepada mereka, yang mereka jawab sambil berhenti: “Juga kepada amir, kami ucapkan salam”.

“Juga kepada amir?” Amir mana yang mereka maksud?”, tanya orang Syria itu dalam hati.

Keheranannya semakin bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: “Berikanlah kepada kami wahai amir!”

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman Al Farisi, amir (penguasa) kota Madain.

Orang itupun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya.

Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman menolak, dan berujar sambil menggelengkan kepala: “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!” (lihat Khalid Muhammad Khalid/ Rijal Haula ar Rasul/ hal 56)

Ibrahim bin Adham adalah seorang tokoh shufi yang terkenal…

Dia adalah raja di Balkh satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurasan, menggantikan ayahnya yang baru mangkat.

Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrahim bin Adham juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.

Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrahim menegur orang itu, “Apa yang tengah kamu lakukan di atas sana?” Orang itu menjawab, “Saya sedang mencari ontaku yang hilang.” “Apa kamu sudah gila, mencari onta di atas genteng,” sergahnya. Namun orang itu balik menyerang, “Tuan yang gila, karena tuan mencari Allah di istana.” Jawabannya membuat Ibrahim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus menerus menerawang merenungi kebenaran kata kata itu. Hingga adzan Shubuh berkumandang Ia tetap terjaga.

Esok harinya, keadaannya tidak berubah. la gelisah, murung, dan sering menyendiri. la terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu.

Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikin berkurang. Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadarl kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti.

Ketika ia berusaha bangun, tiba tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya. Tetapi, saat dia hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!”

Namun, Ibrahim terus berlari sambil melihat kiri kanan, tapi tak seorang pun di sana, lalu ia berucap, “Semoga Allah memberikan kutukan kepada Iblis!”

Dia pacu kembali kudanya. Namun, lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kall. la lalu berhenti dan berkata, “Apakah itu sebuah peringatan dari Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepadaNyal”

Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Lalu memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakal. Setelah mengenakan pakalan usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya. Dari sinilah drama kesendirian Ibrahim bermula. Istana megah ia tinggalkan dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya.

Berbulan bulan mengembara, Ibrahim tiba di sebuah kampung bernama Bandar Nishafur. Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir dan memperbanyak lbadah. Hingga tidak lama kemudian, keshalihan, kezuhudan dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak di antara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrahim selalu menolak.

Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishafur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya. (sumber http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=523)

Imam Al Ghazali berkata:

قِيْلَ لِإبْرَاهِيْمَ بْنِ أَدْهَم مَا بَالُنَا نَدْعُو فَلَا يُسْتَجَابَ لَنَا وَقَدْ قَالَ تَعَالَى اُدْعُوْنِي اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Pernah ditanyakan orang kepada Ibrahim bin Adham, “mengapa do’a kami tidak dikabulkan, padahal Allah telah berfirman: ‘berdo’alah kamu kepadaKu, niscaya Aku perkenankan do’amu”?

قَالَ لِأَنَّ قُلُوبَكُمْ مَيِّتَةٌ

Ibrahim bin Adham menanggapi: “Karena hatimu telah mati!”

قِيْلَ وَمَا الَّذِي أَمَاتَهَا

Ditanyakan lagi, “apa yang mematikannya?”

قَالَ ثَمَانُ خِصَال عَرَفْتُمْ حَقَّ اللهِ وَلَمْ تَقُومُوا بِحَقِّهِ وَقَرَأْتُمُ القُرْآنَ وَلَمْ تَعْمَلُوا بِحُدُوْدِهِ وَقُلْتُمْ نُحِبُّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَلَمْ تَعْمَلُوا بِسُنَّتِهِ وَقُلْتُمْ نَخْشَى المَوْتَ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا فَوَاطَأْتُمُوهُ عَلَى المَعَاصِي وَقُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَأَرْهَقْتُمْ أَبْدَانَكُمْ فِيْهَا وَقُلْتُمْ نُحِبُّ الجَنَّةَ وَلَمْ تَعْمَلُوا لَهَا وَإِذَا قُمْتُمْ مِنْ فُرُشِكُمْ رَمَيْتُمْ عُيُوْبَكُمْ وَرَاءَ ظُهُوْرِكُمْ وَافْتَرَشْتُمْ عُيُوْبَ النَّاسَ أَمَامَكُمْ فَأَسْخَطْتُمْ رَبّكُمْ فَكَيْفَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Ibrahim bin Adham menjawab: “Ada delapan hal… (1) Kamu telah mengetahui hak Allah, tetapi kamu tidak menunaikan hakNya; (2) kamu membaca Al Quran, tetapi kamu tidak mengamalkan ketentuan yang terdapat di dalamnya; (3) kamu mengatakan: “Kami mencintai Rasulullah SAW, tetapi kamu tidak mengamalkan sunnahnya; (4) kamu mengatakan: “Kami takut menghadapi maut”, tetapi kamu tidak mempersiapkan diri menghadapinya; (5) Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman: “Sungguh syetan adalah musuh yang nyata bagimu, maka ambillah dia menjadi musuhmu….”, namun kamu berpadu dengan syetan itu melakukan kemaksiatan; (6) kamu mengatakan: “kami takut kepada neraka”, tetapi kamu menganiayai badanmu ke dalamnya; (7) kamu mengatakan: “Kami mencintai surga”, tetapi kamu tidak beramal untuk masuk surga; (8) bila kamu bangun dari peraduanmu, maka kamu mencampakkan ‘aibmu ke belakangmu, dan kamu membentangkan ‘aib orang lain di hadapanmu… Lantaran hal-hal itulah kamu membuat Tuhanmu murka… lantas, bagaimana Dia memperkenankan do’amu?” (lihat, Ihyak ‘ulumuddin” Juz III halaman 38)

UG-Jumat, 14 Januari 2011 pukul 7:13:47

 

MENYAMBUT 2011

Hari ini jum’at 31 Desember merupakan hari terakhir 2010, dan Insya Allah tepat pada 00.00 Wib tengah malam nanti, maka kita berada pada 1 Januari 2011… ((Berbeda dengan tahun Hijriyah dimana pergantian hari dihitung dengan masuknya maghrib pada hari yang bersangkutan…))

Banyak acara dan agenda yang biasa dilakukan orang untuk menyambut jam 00.00 Wib tengah malam nanti, seperti pagelaran musik, bermain kartu, pesta kembang api, membunyikan terompet dan perbuatan hura-hura lainnya… semuanya mereka lakukan untuk mengekspresikan kegembiraan dan kesenangan hati, karena Yang Maha Kuasa telah memberi umur panjang hingga pergantian tahun tiba…

Lain dengan mereka, lain pula dengan saya… Bagi saya pergantian tahun merupakan bahan renungan untuk intropeksi diri dan membaca sinyal Ilahiah atas makna hidup yang telah saya lalui, karena hidup ini adalah perjalanan panjang menuju distinasi; pertemuan dengan Allah SWT di Hari Berhimpun kelak…

Saya mencoba membalik-balik lembaran ayat suci Al Quran… Ternyata, umur panjang tidak lebih dari apa yang dipaparkan Allah SWT pada ayat berikut ini:

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Q.S. Fathir (35): 11)

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) [[kembali menjadi lemah dan kurang akal]]. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Q.S. Yasin (36): 68)

Siklus kehidupan terus berputar…

Pergantian tahun adalah sunnatullah yang membuat kita hidup semakin dekat menuju batas…, dan kita datang ke dunia ini secara bergiliran, berganti-ganti; generasi demi generasi… Maka adalah sangat naif, apabila kita merasa bahwa bumi yang kita tempati hanya dan hanya untuk kita semata, tanpa bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan generasi mendatang… Lalu membiarkan hawa nafsu serakah menguasai jalan pikiran kita, untuk berbuat sesuka hati menyebar kerusakan dipermukaan bumi… Berbuat semena-mena merusak lingkungan, menguras sumber daya energi dan seterusnya, dan seterusnya… Atau mengikuti bujukan iblis dan setan la’natullah agar menghabiskan umur dalam kubangan maksiat dan perbuatan dosa… Kehidupan yang sedemikian rupa adalah menjerumuskan… Seperti yang disinyalir Allah SWT tentang watak Yahudi Medinah dahulu kala pada ayat berikut:

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al Baqarah (2): 96)

Jadi umur panjang tidak berarti apapun bila tidak diisi dengan amal kebajikan… Ini pula yang dirangkum Nabi SAW dengan sabdanya:

جامع الأحاديث – (ج 12 / ص 364) : 12102

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ (أحمد ، وابن زنجويه ، والترمذى – حسن صحيح – والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى عن أبى بكرة

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amal perbuatannya.” (HR. Ahmad V/40/Nh.20431, At-Turmuzi V/566, Nh 2330, Al Hakim I/489, Nh 1256, Al Baihaqqi III/371 Nh 6317)

Akhirnya, marilah kita kembali menghayati pesan Allah SWT yang terdapat pada surat Al ‘Ashri:

(3)وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. (1).  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2).  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(3).”

Demikianlah! Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus. Amin!

UG-Jumat, 31 Desember 2010 pukul 7:11:06

Di antara manusia ada yang kikir dan ada pula yang dermawan… Orang yang kikir mengukur laba rugi berdasarkan motif duniawi belaka…, sedangkan orang dermawan menilai laba rugi berdasarkan motif ukhrawi yang jauh lebih baik dan kekal…

Diriwayatkan, bahwa: Seorang lelaki pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Bila pemilik kurma itu memetik buah kurma, maka dia memetiknya dari rumah tetangganya, dan jika ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak yang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkan…

Orang fakir itu mengadukan hal ini kepada Rasulullah SAW dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Fulan, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga”. Pemilik kurma itu menanggapi: “Hanya sekian tawaran tuan?” Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya”… Pemilik kurma itu pergi.

Pembicaraan dengan Nabi SAW tersebut terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah SW dan bertanya: “Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadi milikku?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya!” Maka pergilah orang itu menemui sang pemilik kurma. Pemilik pohon kurma itu berkata: “Apakah anda tahu bahwa Muhammad SAW menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku catat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma dan tidak ada satupun yang buahnya selebat itu?” Orang Dermawan tadi menanggapi: “Apakah anda mau menjualnya?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, tapi… pasti tidak akan ada yang sanggup”. Dermawan itu mengatakan: “Berapa yang anda inginkan?” Ia berkata: “Aku inginkan empat puluh pohon kurma”. Ia terdiam kemudian berkata lagi: “Anda minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika anda benar mau menukarnya”. Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan pertukaran itu.

Dermawan tadi menghadap Rasulullah SAW dan berujar: “Wahai Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikmu dan aku akan serahkan kepada tuan”. Maka Rasulullah SAW berangkat kepada pemilik rumah yang yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan kelurgamu”. Sehubungan dengan kasus inilah turun surat Al Lail (S: 92) dari ayat 1 hingga terakhir. (Lihat, Jalaluddin As Suyuthi/ Ad Darr al Mantsur/ Juz X/ hal 278)

Terjemahan maksud surat Al Lail:

1.  Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

2.  Dan siang apabila terang benderang,

3.  Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,

4.  Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

5.  Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,

6.  Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),

7.  Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

8.  Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,

9.  Serta mendustakan pahala terbaik,

10.  Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

11.  Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia Telah binasa.

12.  Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,

13.  Dan Sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.

14.  Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.

15.  Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,

16.  Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

17.  Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,

18.  Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,

19.  Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,

20.  Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.

21.  Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

UG-Jumat, 24 Desember 2010 pukul 7:56:31

Sastrawan kondang almarhum A.A. Navis dalam kumpulan cerpennya “Robohnya Surau Kami” (Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1994)  sub judul “Datangnya dan Perginya” halaman 53 sd 64.. telah menyampaikan pesan moral yang sungguh menggugah hati, tentang kekeliruan yang dilakukan anak manusia, meskipun yang bersangkutan telah berobah pola hidupnya seratus delapan puluh derajat, (telah menjadi orang surau dan ta’at beribadah kepada Allah SWT) namun…. Dampak negatif atas kekeliruan dan kecerobohan itu masih sulit dihapus dalam perjalanan hidup mendatang. … dampak negatif itu sungguh sangat memilukan.

Apa yang ditulis Navis dalam kumpulan cerpennya itu, dengan tokoh cerita:  ayah Masri, Masri, Iyah dan Arni… mengingatkan saya kepada pesan moral yang terdapat dalam kisah Adam dan Hawa di dalam Al Quran yang telah melakukan pelanggaran ( Q.S: 2:35, 2:36, 7:19, 7:20, 7:22, 20:120, 20:121)… Adam dan Hawa telah bertaubat kepada Allah SWT, dan taubatnya diterima Allah… Tetapi mereka sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari dampak perbutan keliru itu, yakni; turun ke bumi dan menjalani kehidupan sedemikian rupa; berpisah selama empat puluh tahun dan seterusnya… dan seterusnya…

Anak manusia seringkali melupakan dampak mendatang dari perbuatan negatif yang akan atau sedang dilakukannya… Kalaupun, dia mengetahui akan resiko fatal yang mungkin terjadi… namun rayuan dunia dan nyanyian iblis seringkali lebih memukau, lebih menggairahkan dan menggiurkan… Maka tidak berguna lagi baginya ilmu pengetahuan dan titel yang dia miliki…, semua ia korbankan demi kenikmatan sesa’at dan khayalan yang bukan-bukan…

Apa yang menimpa para penguasa durjana dan tiranik dengan akhir kehidupan mengenaskan… Apa yang dialami para koruptor yang telah menikmati kekayaan secara illegal, dan berakhir di penjara… merupakan pelajaran kecil tentang akibat paling kecil (bila dibandingkan dengan azab paling besar di akhirat) yang bakal dihadapi oleh orang-orang yang berbuat kerusakan dan pelanggaran di dunia dekil dan kerdil ini…

Jadi, tokoh-tokoh seperti Fir’aun, Haman dan Qarun… Kisah Zin Nun (Yunus, as)  yang meninggalkan kaumnya sebelum perintah Tuhan datang…, dan sebagainya… dan sebagainya… adalah pelajaran maha penting bagi kita dalam berfikir sebelum bertindak.. Seperti kata bijak “fikir dahulu pendapatan, fikir kemudian tiada berguna”,  atau dengan indah diungkapkan Al Quran pada surat Ali Imran ayat 190 sd 194 yang bermaksud:

190.  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

192.  Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

193.  Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

194.  Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

UG-Kamis, 23 Desember 2010 pukul 05:38:01

KALA PERGANTIAN TAHUN

Banyak cara dilakukan orang untuk menyambut pergantian tahun baru…

Di awal 1432 H ini dan sebentar lagi 2011 M akan datang pula, maka aku bersyukur kepada Allah SWT… Dan aku senang bercengkrama dengan anda para sahabat, terutama berbicara tentang nikmat Allah SWT yang berlimpah ruah kepada kita hambaNya…

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Dhuha: 11)

Alhamdulillah, aku memuja Allah yang telah memberi aku umur panjang… aku telah melewati masa kecil hingga dewasa dengan segala romantikanya, berpuluh tahun malang melintang di panggung sandiwara dunia; mengecap asam-garam, dan pahit-manisnya kehidupan…

Alhamdulillah, aku memuji Allah yang telah memberi aku ilmu pengetahuan, sehingga dapat mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang iman dan mana yang kufur… dan seterusnya… Meskipun kebodohan masih selalu merayu agar menggantang asap, patamurgana di siang bolong…

Alhamdulillah, aku menyanjung Allah yang telah memberi aku harta kekayaan dari berbagai jurusan, sehingga mawasdiri dari meminta-minta, atau mencuri dan korupsi…

Alhamdulillah, aku bersujud kepada Allah yang telah memberi aku tubuh jasmani, yang dari hari ke hari aku gunapakaikan…. Begitu lama…, bahkan tanpa disadari onderdil tubuh mulai rapuh dan limbung …

Dalam pada itu…, apabila aku semakin merenung, maka datanglah rasa kecut melilit hati… karena hal-hal yang aku paparkan tadi seringkali terlalaikan… Aku kira hari masih tinggi, rupanya sore sudah menjelang…

Awan hitam membelintang di sudut langit, cahaya mentari mulai redup, warna daun-daun hijau terlihat kusam, angin menggoyang pepohonan, meluncur turun ke relung hati…

Bila terus merenung, maka teringatlah aku kepada sabda Nabi SAW yang dicantumkan oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya “Riyadhus Shalihin” (Tahqiq Dr. Al Fahhal) Juz I halaman 259:

وعن أَبي برزة – براء ثُمَّ زاي – نَضْلَة بن عبيد الأسلمي – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ ؟ )) رواه الترمذي ، وَقالَ : (( حديث حسن صحيح )) .

Bersumber  dari Abu Barzah Al Aslami, radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidak akan beranjak kedua tumit seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia dimintai pertanggung jawaban: (1) Tentang umurnya dalam hal apa dia menghabiskannya; (2) Tentang ilmu pengetahuannya dalam hal apa dia berbuat; (3) Tentang harta kekayaannya; dari mana dia peroleh, dan dan dalam hal apa ia belanjakan; (4) Tentang tubuhnya, dalam hal apa dia gunapakaikan.” (HR. At Turmudzi)

Sahabat…! Rupanya hidup kita akan dipertanggung jawabkan…!

UG-Jumat, 17 Desember 2010; pukul: 13:25:38

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.